Tribunpandawa.id, CIMAHI – Memasuki usia ke-25 tahun, Kota Cimahi dihadapkan pada berbagai tantangan pembangunan. Namun di balik berbagai persoalan yang ada, para pemangku kepentingan meyakini bahwa masa depan Cimahi masih menyimpan peluang besar untuk terus berkembang. Kuncinya hanya satu, yakni kolaborasi.
Pandangan tersebut mengemuka dalam sarasehan refleksi 25 tahun Kota Cimahi yang mempertemukan unsur DPRD, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, serta para penggerak terbentuknya Kota Cimahi sebagai daerah otonom. Forum tersebut menjadi ruang diskusi terbuka untuk merumuskan arah pembangunan Cimahi ke depan.
Ketua DPRD Kota Cimahi, Wahyu Widyatmoko, menilai semangat kebersamaan yang terbangun dalam momentum refleksi 25 tahun Kota Cimahi menjadi modal penting dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan.Menurutnya, perjalanan Cimahi selama seperempat abad tentu tidak lepas dari berbagai hambatan. Namun ia melihat peluang yang dimiliki kota ini jauh lebih besar dibandingkan tantangan yang dihadapi.
“Cimahi bisa bangkit dan mampu menata diri dengan lebih baik. Tantangan pasti ada, tetapi peluang yang dimiliki Cimahi ke depan sesungguhnya jauh lebih besar,” ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Ketua I DPRD Kota Cimahi menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi solusi utama untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang saat ini tengah dihadapi masyarakat.
Ia menyoroti persoalan sampah sebagai isu paling krusial yang terus menjadi perhatian publik dan kerap menjadi pembahasan hangat di tengah masyarakat.
Menurutnya, keterlibatan para tokoh pendiri dan pejuang Kota Cimahi dalam sarasehan tersebut diharapkan dapat melahirkan gagasan serta langkah konkret dalam menyelesaikan persoalan yang ada.
“Masalah sampah masih menjadi perhatian utama. Melalui semangat yang dibangun para pendiri Kota Cimahi dalam sarasehan ini, saya berharap berbagai persoalan, terutama persoalan sampah, dapat dituntaskan bersama,” katanya.
Sementara itu, Wakil Ketua II DPRD Kota Cimahi, Agung Yogaswara, menegaskan bahwa pembangunan kota tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan keterlibatan seluruh unsur, mulai dari pemerintah, legislatif, aparat penegak hukum, hingga masyarakat.
“Pembangunan kota merupakan tanggung jawab bersama. Kita tidak bisa membangun kota hanya mengandalkan satu segmen tertentu. Semua elemen harus terlibat dan bergerak bersama,” tegasnya.
Agung menjelaskan, Cimahi memiliki keterbatasan dari sisi wilayah maupun sumber daya alam. Karena itu, kekuatan utama yang dimiliki kota ini adalah sumber daya manusianya.
Menurutnya, kualitas SDM menjadi faktor paling menentukan dalam menyelesaikan berbagai persoalan perkotaan, mulai dari sampah, banjir, hingga persoalan sosial lainnya.
“Apapun persoalannya akan lebih mudah diatasi jika kita memiliki sumber daya manusia yang unggul. Karena itu pembangunan SDM harus menjadi prioritas utama,” ujarnya.
Ia menambahkan, edukasi kepada masyarakat menjadi langkah penting yang harus terus dilakukan oleh pemerintah, legislatif, dan seluruh pemangku kepentingan. Kesadaran terhadap hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari diyakini dapat memberikan dampak besar terhadap penyelesaian berbagai persoalan kota.
Sebagai bagian dari generasi penerus, Agung juga menegaskan komitmennya untuk tidak melupakan sejarah perjuangan para pendiri Kota Cimahi yang telah mewujudkan daerah ini menjadi kota otonom.
“Saya tidak akan melupakan perjuangan para pendiri Kota Cimahi. Kepada generasi muda, saya mengajak untuk terus berkontribusi dan menjadi pribadi yang bermanfaat bagi kemajuan Kota Cimahi,” pungkasnya.***