Ujian yang digelar selama dua hari, 20 hingga 21 April 2026 ini justru menghadirkan suasana yang tenang bagi para siswa.
Kepala Sekolah, Ibu Intan Ria Yudha, melalui Ketua Panitia Pelaksana, Samsudin, mengungkapkan bahwa kesiapan teknis menjadi faktor penting dalam keberhasilan pelaksanaan TKA tahun ini.
“Perangkat komputer menjadi hal utama dalam pelaksanaan TKA berbasis digital. Saat ini sekolah baru memiliki tujuh unit, sehingga kami harus menyewa tambahan agar pelaksanaan tetap berjalan optimal,” ujar Samsudin saat ditemui awak media, Selasa (5/5/2026).
Di tengah keterbatasan tersebut, suasana ujian justru berlangsung santai. Para siswa terlihat percaya diri dan tidak terbebani, bahkan menjalani ujian layaknya kegiatan belajar biasa di kelas.
Hal ini tidak lepas dari peran orang tua yang tidak memberikan tekanan berlebih kepada anak-anaknya. Fokus utama mereka tetap pada ujian sekolah, bukan pada TKA semata.
“Anak-anak terlihat tenang, tidak menganggap ini sebagai ujian besar. Orang tua juga tidak memberi tekanan seperti dulu saat Ujian Nasional,” tambahnya.
Pelaksanaan TKA dibagi dalam dua sesi hari, masing-masing berdurasi 1 jam 45 menit. Hari pertama diisi dengan mata pelajaran Matematika, sementara hari kedua Bahasa Indonesia.
Materi yang diujikan pun lebih menekankan pada kemampuan memahami konsep dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk Matematika, soal lebih banyak mengarah pada penalaran serta pemecahan masalah berbasis situasi nyata. Sedangkan Bahasa Indonesia berfokus pada pemahaman teks nonfiksi dan informatif.
“Kunci dari TKA ini adalah ketelitian. Jika siswa mampu memahami soal dengan baik, maka mereka akan lebih mudah dalam menjawab,” jelas Samsudin.
Ia juga menegaskan bahwa TKA tidak menjadi penentu kelulusan siswa, berbeda dengan sistem Ujian Nasional di masa lalu. Namun demikian, hasil TKA tetap memiliki nilai strategis, khususnya dalam jalur prestasi untuk melanjutkan ke jenjang SMP.
“Informasi sementara, nilai TKA akan dipadukan dengan nilai rapor. Tapi sampai saat ini belum ada ketentuan resmi dari dinas pendidikan terkait formula penilaiannya,” ungkapnya.
Sebagai bentuk keseriusan dalam meningkatkan kualitas pendidikan, pihak sekolah juga menggelar program tambahan belajar bagi siswa. Program ini diharapkan mampu mendongkrak capaian akademik sekaligus menjadi indikator mutu pendidikan di sekolah.
Di sisi lain, tantangan masih dirasakan dalam hal sarana dan prasarana, terutama terkait perangkat teknologi. Menurut Samsudin, sekolah di wilayah perkotaan relatif lebih mudah dalam memenuhi kebutuhan tersebut dibandingkan sekolah di daerah dengan keterbatasan akses.
Meski demikian, SDN Karangmekar Mandiri 2 tetap optimistis bahwa pelaksanaan TKA dapat menjadi alat ukur yang efektif untuk menilai kemampuan siswa, khususnya dalam bidang Matematika dan Bahasa Indonesia.
“Yang terpenting, siswa bisa mengerjakan soal dengan teliti dan memahami maksudnya. Dari situ kita bisa melihat sejauh mana kualitas pembelajaran yang telah dicapai,” pungkasnya.
(Mang Cu)

