Tribunpandawa.id, Cimahi — Memperingati Hari Ulang Tahun ke-80, Pusat Kesenjataan Artileri Medan (Pussen Armed) TNI AD menggelar seminar strategis bertajuk “Transformasi Doktrin Artileri Medan TNI AD dalam Era Peperangan Modern: Menuju Integrasi Meriam, Roket, Rudal Jarak Jauh, dan Interoperabilitas Multi-Matra.
”Seminar ini digelar sebagai respons terhadap perkembangan karakter peperangan modern yang semakin kompleks dan menuntut pemanfaatan teknologi pertahanan yang terintegrasi.
Baca juga: satu-peluru-tepat-sasaran-tingkatkan.html
Danpusseenarmed, Mayjen TNI Budi Eko Mulyono, S.Sos., M.M., CHRMP, menjelaskan bahwa seminar ini menghadirkan para pakar terbaik di bidang pertahanan, integrasi teknologi, dan sistem persenjataan.
Sejumlah narasumber di antaranya Mayjen TNI Immer H. Partogi Butar Butar, S.I.P., M.M.; Mayjen TNI Aang Gunawan, S.Sos.; Brigjen TNI Harjatmoko; Kolonel ARM Lukas Meinardo Sormin, S.I.P., M.I.Pol.; Kolonel Laut (P) Heru Syamsul Hidayat, S.Si., M.M.; serta Kolonel PNB Dr. Anton Palaguna, S.E., M.M., M.Han., M.M O.A.S.
Menurut Danpussen, berbagai pandangan yang muncul dalam seminar ini sangat berharga sebagai masukan untuk memperkuat doktrin Armed dan kesiapan TNI menghadapi ancaman masa depan.
“Dengan kondisi peperangan saat ini, pemanfaatan teknologi menjadi sebuah keniscayaan. Para narasumber yang hadir adalah orang-orang ahli di bidangnya, dan masukan mereka sangat penting bagi perkembangan Armed dan TNI,” ujar Mayjen Budi Eko Mulyono saat ditemui di Pusdik Armed, Cimahi, Selasa (18/11/25).
Integrasi Antar Matra Jadi Kunci.
Dalam paparannya, Danpussen menekankan bahwa secanggih apa pun alutsista TNI, kekuatan itu tidak akan optimal tanpa integrasi antar-matra.
“Apapun kecanggihannya, kalau darat, laut, dan udara bekerja sendiri-sendiri, itu akan sulit. Integrasi adalah kuncinya,” tegasnya.
Interoperabilitas meriam, roket, rudal jarak jauh, hingga sistem penginderaan modern disebut sebagai keharusan untuk menjawab tantangan peperangan multidomain yang terjadi di berbagai negara.
Dorong Kemandirian Industri Pertahanan Nasional.
Seminar juga menggarisbawahi urgensi kemandirian industri pertahanan dalam negeri. Pussen Armed menegaskan pentingnya Indonesia memiliki kemampuan produksi alutsista tanpa bergantung pada negara lain.
“Kami ingin industri pertahanan nasional dapat mandiri. Karena itu, berbagai pihak dari industri kami libatkan, agar ke depan Indonesia mampu memenuhi kebutuhan alutsistanya sendiri,” kata Mayjen Budi.
Harapan tersebut mencakup pengembangan mulai dari kapal perang, pesawat, hingga sistem persenjataan modern berteknologi tinggi.
Modernisasi dan Akurasi Sistem Persenjataan.
Isu akurasi dan efektivitas menjadi sorotan khusus. Armed menilai bahwa kemampuan tembak presisi merupakan faktor penentu dalam operasi modern.
“Sebanyak apa pun amunisi yang ditembakkan, jika tidak tepat sasaran, itu hanya membuang energi. Satu peluru yang tepat sasaran jauh lebih bermanfaat dan memberikan efek dominan,” ujarnya.
Karenanya, modernisasi alutsista terutama rudal jarak jauh, sistem penembakan otomatis, dan sensor terpadu menjadi agenda yang akan diprioritaskan.
Arah Penguatan Pertahanan ke depan, Seminar ini diharapkan menjadi dasar penyempurnaan strategi pertahanan nasional, termasuk revisi regulasi, penguatan struktur satuan, serta peningkatan kemampuan personel di semua matra.
Pussen Armed menegaskan bahwa integrasi, modernisasi, dan kemandirian industri pertahanan akan menjadi tiga pilar utama dalam menjaga kedaulatan Indonesia di tengah dinamika ancaman global yang terus berkembang. (Mang Cu Bacuner's)


