BSM0Gpd8GpW9Gfd7TSz6BUWpBY==
Breaking
News

Sendal Jepit dan Sendal Kulit di Batas Langit

Sendal Jepit dan Sendal Kulit di Batas Langit
Ukuran huruf
Print 0

Tribunpandawa.id, Cimahi - Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, kontras sosial kerap tampak begitu mencolok bahkan dari sepasang alas kaki. 

Sendal jepit dan sendal kulit seolah mampu membedakan siapa pemiliknya, membatasi langkah antara mereka yang bergelimang harta dan mereka yang berjalan di atas jalanan keras penuh debu kehidupan.

Sebuah kalimat reflektif menggema di ruang publik.

 “Apa artinya tumpukan kekayaan bila bau busuk kemiskinan menerobos jendela kamar tidurmu?” Ungkapan ini menjadi simbol dari ironi sosial yang semakin nyata di berbagai lapisan masyarakat.

Di balik megahnya gedung pencakar langit dan gemerlap lampu kota, masih ada warga yang hidup dalam kesederhanaan, bahkan kekurangan. 

Kesenjangan ekonomi membentuk jurang yang kian lebar, seolah dibatasi oleh langit antara mereka yang menikmati kemewahan dan mereka yang berjuang untuk sekadar bertahan.

Fenomena ini tak sekadar persoalan statistik atau angka di atas kertas. Ia adalah wajah nyata dari ketimpangan sosial yang menuntut empati dan kepedulian. 

Sebab, kemakmuran sejati bukan diukur dari tebalnya dompet atau luasnya rumah, melainkan dari bagaimana kesejahteraan bisa dirasakan secara merata oleh semua.

Dan di antara langkah sendal jepit dan bunyi lembut sendal kulit, kita diingatkan bahwa kemanusiaan seharusnya tidak mengenal batas kelas tidak pula dibatasi langit.


 (MANG CU BACUNER'S)



Sendal Jepit dan Sendal Kulit di Batas Langit
Periksa Juga
Next Post
Tautan berhasil disalin