BSM0Gpd8GpW9Gfd7TSz6BUWpBY==
Breaking
News

Polemik Air KBB dan Krisis Kualitas Air Cimahi Menguat

Polemik Air KBB dan Krisis Kualitas Air Cimahi Menguat
Ukuran huruf
Print 0
Tribunpandawa.id,  Cimahi  -  Polemik pengelolaan sumber mata air di Kabupaten Bandung Barat (KBB) kembali mencuat. Ketua P3A Desa Cihanjuang Rahayu, Nandang, menegaskan pihaknya tak diakui Perhutani maupun pemerintah desa meski selama ini menjadi garda depan pengelolaan air.

“Air jangan terus dikuasai orang luar atau investor. P3A yang mengelola, tapi tidak diakui,” ujarnya, Kamis (25/9/2025).

Ia menyebut air dari sumber Ciwangun, Desa Karyawangi, kini dikuasai pihak luar dan diperjualbelikan mahal, sehingga masyarakat terbebani biaya tinggi untuk akses air bersih.

Di sisi lain, kualitas air di Kota Cimahi memburuk dalam tiga tahun terakhir, terutama akibat limbah rumah tangga. 

Kepala Bidang Penaatan Hukum Lingkungan DLH Cimahi, Ario Wibisono, menegaskan sejak 2022 tak ada izin pembuangan limbah cair ke sungai. 

Menurutnya, semua perusahaan wajib memiliki IPAL dan memanfaatkan limbahnya kembali.

Cimahi bergantung pada aliran sungai dari KBB yang bermuara ke Citarum. Lima sungai utama, yakni Cibeureum, Cibaligo, Cihaur, Cimahi, dan Cisangkan dipantau rutin.

Pemerhati lingkungan Wahyu Dharmawan menilai kondisi ini alarm bahaya serius. 

"Jika dibiarkan, Cimahi menghadapi ancaman kesehatan, kerusakan lingkungan, hingga konflik horizontal,” tegas Ketua Perbanusa itu.

Wahyu menekankan solusi harus melibatkan pemerintah provinsi, karena Cimahi tak punya mata air maupun hulu sungai sendiri. 

Ia khawatir hulu sungai sudah tercemar limbah padat, cair, hingga patogen, sehingga dibutuhkan tata kelola lintas wilayah yang lebih ketat.(Mang Cu Bacuner's)

Polemik Air KBB dan Krisis Kualitas Air Cimahi Menguat
Periksa Juga
Next Post
Tautan berhasil disalin