BSM0Gpd8GpW9Gfd7TSz6BUWpBY==
Breaking
News

Hidup Bukan Sekadar Kata, Kisah Perlawanan Sunyi Wong Cilik

Ukuran huruf
Print 0

Trbunpandawa.id, Cimahi – Di balik riuhnya janji-janji perubahan dan lantunan kata motivasi yang berseliweran di media sosial, ada satu kenyataan yang tak bisa dibantah: hidup wong cilik tidak berubah hanya karena teori Senin, 14 Juli 2025.

Bagi mereka yang hidup di lorong sempit dan dapur berasap tipis, perubahan bukan datang dari harapan, melainkan dari pergerakan. Dari keringat. Dari bangun pagi yang terlalu pagi dan tidur malam yang terlalu larut.

 “Kalau cuma omongan doang mah, kami kenyangnya kapan?” ujar edu (36), tukang  Palkir di resto Richeese, sambil mengayuh meniup peluitnya..

Baginya, hidup tak seindah kalimat bijak di kaus oblong atau poster seminar. Ia paham, dunia tak akan memberi apa-apa kalau ia sendiri tak menggerakkan roda becaknya. Aksi adalah nafas, bukan opsi.

 “Teori itu bagus. Tapi tanpa aksi, hidup cuma jadi ilusi. Ngambang. Kaya balon gas, indah tapi rapuh,” kata Dewu(33), ibu dua anak yang tiap subuh berjualan lontong di gang sempit Cimindi.

Wong cilik seperti Edu dan Dewi tak banyak menuntut. Mereka hanya ingin satu hal: keadilan yang bergerak, bukan keadilan yang hanya dibicarakan.

Di tengah terik, di sela antrean bantuan sosial yang entah kapan sampai, mereka terus berjalan. Pelan tapi pasti. Karena mereka tahu: perubahan itu bukan menunggu. Tapi melangkah.(Mang Cu Bacuner's)

Hidup Bukan Sekadar Kata, Kisah Perlawanan Sunyi Wong Cilik
Periksa Juga
Next Post
Tautan berhasil disalin