Tribunpandawa.id, CIMAHI - Kekhawatiran terhadap kemacetan mulai terasa di sejumlah ruas jalan Kota Cimahi seiring dimulainya rekayasa lalu lintas akibat pembangunan dan pemeliharaan Jembatan Pemkot Cimahi serta proyek pembangunan underpass.Pada Rabu (19/8/2026), pemberlakuan pengalihan arus mulai diterapkan.
Meski sosialisasi telah dilakukan sebelumnya, kondisi di lapangan menunjukkan sebagian masyarakat masih membutuhkan waktu untuk memahami pola lalu lintas baru dan menentukan jalur alternatif yang paling efektif.Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Cimahi, Endang, saat ditemui di lokasi pengalihan arus Jalan Gatot Subroto (Gatsu), Kelurahan Baros, mengatakan kepadatan pada hari pertama rekayasa lalu lintas merupakan hal yang masih mungkin terjadi.
“Dengan adanya pengalihan jalan, hari ini kita mulai pemberlakuan rekayasa lalu lintas. Memang terlihat adanya peningkatan kepadatan karena masyarakat belum terbiasa dan mungkin belum bisa memilih jalur alternatif yang paling lancar,” ujar Endang.Menurutnya, kondisi tersebut diharapkan mulai membaik pada hari kedua setelah masyarakat memahami pola pengalihan arus dan terbiasa menggunakan jalur alternatif.
Dishub bersama kepolisian juga melakukan evaluasi terhadap sejumlah ruas jalan yang mengalami kepadatan.
Beberapa titik yang menjadi perhatian antara lain Jalan Kolonel Masturi, mulai dari kawasan Simpang Alun-Alun ke arah atas, serta Jalan Daeng.
“Besok akan kita evaluasi dan formulasi kembali, termasuk ruas jalan mana yang perlu diberlakukan satu arah maupun dua arah. Ini terus kita koordinasikan dengan kepolisian,” katanya.
Untuk mengantisipasi kemacetan, Dishub menyiagakan personel di sekitar 24 titik pengaturan lalu lintas.
Total terdapat kurang lebih 100 personel gabungan yang diterjunkan, terdiri dari sekitar 73 personel Dishub, 20 personel kepolisian, serta personel TNI.
Pengaturan lalu lintas juga dilakukan secara berkesinambungan dengan sistem tiga sif.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan tidak terjadi kekosongan petugas, terutama pada titik-titik yang berpotensi mengalami penumpukan kendaraan.
Endang menegaskan, perhatian khusus diberikan pada jam-jam sibuk, baik pagi saat masyarakat berangkat kerja maupun sore ketika aktivitas pulang kerja berlangsung.
“Pada jam puncak pagi dan sore, personel akan kita perbanyak di titik-titik tertentu untuk melakukan pengaturan di lapangan,” tuturnya.
Dishub berharap pengguna jalan dapat bersabar selama masa penyesuaian serta mulai memanfaatkan jalur alternatif yang telah disiapkan.
Pemerintah Kota Cimahi pun akan terus memantau kondisi lalu lintas dari hari ke hari.
Evaluasi lapangan menjadi kunci agar rekayasa arus kendaraan dapat berjalan lebih efektif sekaligus mengurangi dampak kemacetan akibat pengerjaan sejumlah proyek infrastruktur.
Bagi masyarakat, dimulainya proyek pembangunan memang membawa harapan terhadap infrastruktur yang semakin baik.
Namun, untuk sementara waktu, warga harus menghadapi konsekuensi berupa perubahan pola perjalanan dan potensi kepadatan di sejumlah ruas jalan.
Hari pertama menjadi masa adaptasi. Hari-hari berikutnya diharapkan menjadi masa pembuktian bahwa rekayasa lalu lintas mampu membuat mobilitas Cimahi tetap bergerak di tengah pembangunan.
( Mang Cu )