BSM0Gpd8GpW9Gfd7TSz6BUWpBY==
Breaking
News

Panas Terik Tak Padamkan Semangat Penari, Kariaan Agustusan Cimahi Tetap Meriah

Panas Terik Tak Padamkan Semangat Penari, Kariaan Agustusan Cimahi Tetap Meriah
Ukuran huruf
Print 0

 
Tribunpandawa.id,  CIMAHI  -  Terik matahari dan waktu pelaksanaan yang sedikit molor ternyata tak mampu memadamkan semangat para peserta Pentas Tari Kariaan Agustusan Tahun 2026. 

Dengan penuh antusias, anak-anak penari tetap bertahan dan tampil maksimal di hadapan masyarakat yang memadati Alun-Alun Kota Cimahi, Minggu (23/8/2026).

Senyum, gerak tari dan energi para peserta menjadi warna tersendiri dalam gelaran seni budaya tahunan tersebut. Meski matahari cukup menyengat, para penari tetap menunjukkan motivasi tinggi untuk memberikan penampilan terbaik.

Semangat itu seolah menjadi pesan bahwa berkesenian tidak mengenal kata menyerah. Bagi para peserta, kesempatan tampil di panggung Kariaan Agustusan menjadi pengalaman sekaligus kebanggaan tersendiri.

Alun-Alun Kota Cimahi pun berubah menjadi panggung budaya. Berbagai karya tari ditampilkan dengan melibatkan generasi muda, seniman, koreografer, pelatih serta dukungan para orang tua.

Kegiatan tersebut dihadiri langsung Wali Kota Cimahi Ngatiyana bersama istri, Midjiati Ningsih. Hadir pula sejumlah kepala OPD Pemerintah Kota Cimahi, anggota DPRD Kota Cimahi, Kapolres Cimahi atau yang mewakili, unsur Forkopimda, seniman dan budayawan, komunitas seni, orang tua peserta serta tamu undangan lainnya.

Ketua Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC), Yanti, mengatakan Kariaan Agustusan bukan sekadar pertunjukan tari. 

Menurutnya, kegiatan yang digelar secara rutin setiap tahun itu memiliki misi lebih besar, yakni menjadikan kebudayaan sebagai bagian dari edukasi sekaligus wisata.

“Ini rutin diselenggarakan setiap tahun dan menjadi edukasi wisata berbasis budaya. Kami ingin memperkenalkan Kilometer Nol Alun-Alun Kota Cimahi melalui kegiatan kebudayaan,” ujar Yanti.

Anak-anak Jadi Energi Utama.

Semangat para peserta menjadi salah satu daya tarik utama dalam kegiatan tahun ini. Meskipun harus menunggu dan berada di bawah terik matahari, anak-anak tetap mengikuti rangkaian acara dengan penuh antusias.

Bagi DKKC, keberadaan mereka bukan hanya sebagai penampil, tetapi juga sebagai generasi penerus yang akan menentukan keberlangsungan seni dan budaya Kota Cimahi di masa mendatang.

Yanti menyampaikan apresiasi kepada para orang tua yang telah memberikan dukungan kepada anak-anaknya untuk terlibat dalam kegiatan tersebut.

Ia juga mengapresiasi Pemerintah Kota Cimahi, kepolisian dan seluruh pihak yang telah memberikan dukungan serta kemudahan dalam penyelenggaraan kegiatan kebudayaan.

Kemeriahan acara semakin lengkap dengan hadirnya sejumlah kegiatan pendukung, termasuk Gerakan Pangan Murah (GPM). Dukungan pihak Ramayana juga turut memberikan kebahagiaan bagi para peserta melalui voucher bermain untuk anak-anak.

DKKC Dorong Budaya Masuk Program OPD.

Di balik kemeriahan panggung tari, DKKC juga menyampaikan harapan agar pembangunan kebudayaan di Kota Cimahi dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh perangkat daerah.

Yanti menilai kebudayaan tidak semestinya hanya menjadi urusan satu dinas. Setiap OPD diharapkan dapat memasukkan unsur budaya dalam program masing-masing.

“Ini juga merupakan salah satu faktor pendukung Indeks Pembangunan Kebudayaan. Sampai saat ini IPK Cimahi masih belum mencapai 50 persen. 

"Karena itu kami berharap ada dukungan DPRD dan pemerintah pusat agar IPK Kota Cimahi bisa semakin tinggi,” ungkapnya.

Menurut Yanti, kolaborasi lintas OPD akan membuat kegiatan kebudayaan semakin berkembang sekaligus membantu meningkatkan capaian Indeks Pembangunan Kebudayaan Kota Cimahi.

Delapan Tahun Menjaga Tradisi.

Pentas Tari Kariaan Agustusan telah menjadi bagian dari perjalanan kebudayaan Kota Cimahi. Kegiatan ini mulai dirintis pada 2019 dan sempat dilaksanakan secara virtual pada 2020 akibat pandemi.

Setelah itu, pentas kembali digelar secara rutin dengan menghadirkan berbagai karya tari.

Pada 2026, DKKC menampilkan tiga tarian unggulan, yakni Tari Kasunyatan, Tari Cimahi dan Tari Sampernick. 

Tari Sampernick menjadi salah satu karya baru yang diharapkan dapat berkembang sebagai ikon budaya Kota Cimahi.

Yanti berharap konsistensi penyelenggaraan Kariaan Agustusan dapat menjadikan kegiatan tersebut sebagai agenda budaya yang semakin dikenal masyarakat luas.

“Harapannya Kariaan Agustusan ini menjadi ikon Kota Cimahi sekaligus daya tarik wisata bagi wisatawan domestik dari kota dan kabupaten lain,” katanya.

Terik matahari yang sempat menyelimuti Alun-Alun Kota Cimahi akhirnya menjadi saksi bahwa semangat para penari jauh lebih kuat. Mereka membuktikan, sedikit keterlambatan dan panasnya cuaca bukan alasan untuk kehilangan motivasi.

Dari langkah-langkah kecil para penari itulah, harapan besar untuk menjaga dan menghidupkan budaya Cimahi terus ditanamkan.

   ( Mang Cu Bacuner's)

Panas Terik Tak Padamkan Semangat Penari, Kariaan Agustusan Cimahi Tetap Meriah
Periksa Juga
Next Post
Tautan berhasil disalin