BSM0Gpd8GpW9Gfd7TSz6BUWpBY==
Breaking
News

Korban PHK di Cimahi Didorong Bangkit Lewat Usaha Laundry

Korban PHK di Cimahi Didorong Bangkit Lewat Usaha Laundry
Ukuran huruf
Print 0

 
Tribunpandawa.id,  CIMAHI  -  Kehilangan pekerjaan akibat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) tak lantas harus menjadi akhir dari sumber penghasilan. 

Pemerintah Kota Cimahi melalui Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) mencoba membuka jalan baru bagi para pekerja terdampak PHK melalui Program Pemberdayaan Ekonomi dan Kemandirian Penerima Manfaat (PEKA).

Program tersebut dikembangkan dengan menggandeng BPJS Ketenagakerjaan dan Bank Syariah Indonesia (BSI). Salah satu fokusnya adalah membekali korban PHK dengan keterampilan wirausaha laundry yang dapat dijalankan dari rumah maupun tempat usaha lainnya.

Kepala Disnaker Kota Cimahi, Asep Ajat Jayadi, mengatakan program tersebut dirancang agar manfaat yang diterima pekerja dari BPJS Ketenagakerjaan tidak berhenti sebagai bantuan jangka pendek.

“Kami ingin uang dari BPJS Ketenagakerjaan ini tidak habis begitu saja, tetapi bisa berlanjut untuk modal kerja mandiri. Lewat program PEKA, mereka diarahkan mengikuti pelatihan laundry yang bisa dijalankan di rumah maupun tempat lainnya,” ujar Asep saat ditemui awak media dalam kegiatan PEKA dan penyerahan santunan BPJS Ketenagakerjaan di Ballroom MPP Cimahi, Selasa (18/8/2026).

Menurut Asep, kolaborasi tersebut menjadi salah satu langkah konkret pemerintah dalam membantu masyarakat yang kehilangan pekerjaan agar memiliki sumber pendapatan baru.

Melalui pelatihan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh keterampilan teknis menjalankan usaha laundry, tetapi juga diarahkan untuk membangun kemandirian ekonomi dengan memanfaatkan manfaat BPJS Ketenagakerjaan sebagai pijakan awal.

“Harapannya, dana yang diterima bisa menjadi modal produktif. Jadi setelah terkena PHK, mereka tidak hanya menunggu pekerjaan baru, tetapi memiliki alternatif usaha untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” jelasnya.

Dukungan juga datang dari BSI yang membuka peluang akses pembiayaan tambahan bagi peserta yang nantinya membutuhkan modal untuk mengembangkan usaha.

Asep menilai, skema kolaborasi antara pemerintah, BPJS Ketenagakerjaan dan perbankan tersebut menjadi penting di tengah kondisi anggaran pemerintah yang terbatas dan adanya kebijakan efisiensi.

Pelatihan wirausaha laundry itu diikuti sekitar 50 peserta dari berbagai latar belakang. Di antaranya terdapat sekitar 20 mantan pekerja dari Pabrik 6, serta warga dan pasangan pekerja yang turut menjadi penerima manfaat.

“Kami sangat mengapresiasi kolaborasi ini. Di tengah keterbatasan anggaran dan efisiensi pemerintah, ternyata masih ada ruang untuk menghadirkan solusi bagi masyarakat melalui kerja sama lintas sektor,” kata Asep.

Ia berharap program PEKA tidak berhenti pada pelatihan semata. Para peserta diharapkan benar-benar mampu mengembangkan usaha hingga menjadi sumber penghasilan yang berkelanjutan.

“Semoga program ini menjadi berkah dan solusi bagi teman-teman yang terkena PHK. Mudah-mudahan mereka bisa kembali bangkit, memiliki usaha sendiri, dan mandiri secara ekonomi,” pungkasnya.***

Korban PHK di Cimahi Didorong Bangkit Lewat Usaha Laundry
Periksa Juga
Next Post
Tautan berhasil disalin