BSM0Gpd8GpW9Gfd7TSz6BUWpBY==
Breaking
News

Jurnalis Cimahi di Persimpangan, Saat Keterbukaan Ditekan, Keberanian Diuji

Jurnalis Cimahi di Persimpangan, Saat Keterbukaan Ditekan, Keberanian Diuji
Ukuran huruf
Print 0

 
TribunPandawa.id, Cimahi  -  Di tengah derasnya arus informasi yang kian cepat, ironi justru mencuat ketika keterbukaan terasa seperti dibatasi. 

Dunia jurnalistik dihadapkan pada situasi yang tak selalu ideal ada, namun seolah tak diberi ruang untuk tumbuh. Kondisi ini menjadi potret nyata tantangan yang dihadapi insan pers di lapangan.

Realitas menunjukkan, upaya menggali fakta dan membuka kebenaran kerap berhadapan dengan “tembok baja” bernama kepentingan, kekuasaan, hingga terbatasnya akses informasi. Dalam situasi seperti ini, jurnalis bukan hanya dituntut bekerja profesional, tetapi juga harus memiliki keberanian ekstra untuk tetap berdiri di jalur kebenaran.

Sorotan pun mengarah pada dinamika keterbukaan informasi di lingkungan Diskominfo Cimahi yang dinilai belum sepenuhnya memberi ruang merata bagi seluruh insan pers. Sejumlah jurnalis mengaku menghadapi kendala dalam mengakses informasi secara adil dan transparan.

Salah satu jurnalis, Budi Codak, menyampaikan kegelisahannya. Ia menegaskan bahwa kondisi yang dialami bukan karena kurang aktif mencari berita, melainkan akibat kebijakan yang dianggap belum jelas dan perlu menjadi perhatian bersama.

“Ini bukan soal kami tidak bekerja atau tidak mencari berita. Tapi ada kebijakan yang belum jelas arahnya. Perlu dicatat, yang terdaftar itu media dan wartawannya, bukan kelompok kerja (pokja). 

"Dan jangan sampai muncul prasangka seolah-olah humas mendapatkan sesuatu dari pokja,” tegasnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penegasan agar tidak berkembang asumsi liar yang justru memperkeruh situasi. Menurutnya, transparansi dan kejelasan sistem adalah kunci agar hubungan antara pemerintah dan media tetap sehat serta profesional.

Di tengah kondisi tersebut, peran jurnalis menjadi semakin penting. Mereka tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi penjaga nurani publik mengawal fakta agar tetap sampai ke masyarakat secara jujur dan berimbang.

Prinsip independensi, integritas, dan tanggung jawab publik menjadi pijakan utama. Bagi insan pers, berhenti bukanlah pilihan, meski tekanan kerap datang dari berbagai arah.

“Ketika keterbukaan ditekan, di sanalah keberanian diuji. Jurnalis tidak boleh diam,” menjadi refleksi kuat atas situasi yang sedang dihadapi.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak Diskominfo Cimahi belum dapat dihubungi untuk memberikan klarifikasi maupun tanggapan resmi terkait hal tersebut.

Meski jalan yang ditempuh tidak selalu mudah, semangat untuk menghadirkan transparansi harus tetap menyala. Sebab tanpa keberanian jurnalis, kebenaran bisa terkubur, dan keadilan semakin jauh dari jangkauan.***

Jurnalis Cimahi di Persimpangan, Saat Keterbukaan Ditekan, Keberanian Diuji
Periksa Juga
Next Post
Tautan berhasil disalin