Acara yang dihadiri langsung oleh Wakil Wali Kota Cimahi, Adhitia Yudistira, tetap berlangsung dengan penuh antusias. Hadir pula jajaran pemerintah daerah mulai dari Sekretaris Daerah, OPD, camat, hingga lurah se-Kota Cimahi.
Dalam wawancara usai acara, Adhitia menyampaikan apresiasinya terhadap geliat seni di Cimahi yang terus berkembang. Ia menilai, kondisi listrik padam justru menjadi bukti bahwa para seniman mampu beradaptasi dan tetap kreatif dalam berbagai situasi.“Banyak seniman lahir dari Cimahi. Bahkan saat listrik padam, mereka tetap bisa mencairkan suasana. Ini menunjukkan komunitas seni kita sangat hidup,” ujarnya.
Namun demikian, ia juga mengakui bahwa banyaknya komunitas seni belum sepenuhnya didukung fasilitas yang memadai, khususnya ruang pertunjukan atau venue.
Pemerintah Kota Cimahi, lanjutnya, tengah memikirkan penyediaan ruang khusus bagi para pelaku seni agar dapat berkarya lebih optimal.
“Ke depan harus ada venue untuk masyarakat seni. Lokasinya nanti kita pikirkan bersama,” katanya.
Sambil menunggu realisasi tersebut, Pemkot Cimahi mendorong pemanfaatan ruang publik sebagai alternatif. Pentas teater, musik, dan kegiatan budaya lainnya diharapkan bisa hadir di berbagai sudut kota, seperti alun-alun dan ruang terbuka lainnya.
Selain itu, pemerintah juga berkomitmen mempermudah akses penggunaan fasilitas umum untuk kegiatan seni, termasuk pemanfaatan GOR Sangkuriang yang saat ini digunakan sebagai lokasi pertunjukan.
Ke depan, Cimahi juga berencana mengembangkan konsep ruang publik yang lebih aktif dan kreatif, sehingga tidak hanya menjadi pusat aktivitas masyarakat, tetapi juga wadah ekspresi seni.
Meski demikian, pembangunan venue akan disesuaikan dengan kemampuan fiskal daerah. Pemerintah masih memprioritaskan penanganan persoalan mendasar seperti banjir dan sampah.
Sementara itu, Ketua Panitia Hatedu, Ricky Angga Maulana, mengungkapkan bahwa jumlah peserta tahun ini mengalami peningkatan signifikan.
“Tahun lalu hanya sebelas kelompok teater, sekarang ada sembilan belas yang ikut pentas,” ujarnya.
Kegiatan ini menjadi bukti tingginya antusiasme pelaku seni di Cimahi. Di tengah keterbatasan fasilitas, semangat berkarya tetap tumbuh dan menjadi energi besar bagi perkembangan seni dan budaya di kota tersebut.
Pemkot Cimahi pun menargetkan kebutuhan ruang kreatif bagi masyarakat dapat terpenuhi secara bertahap hingga tahun 2030, seiring rencana revitalisasi kawasan kota, termasuk Sangkuriang.
(Mang Cu)
