Tribunpandawa.id, Cimahi - Di balik setiap berita yang terbit, ada pergulatan batin yang jarang terbaca publik. Bagi Mang Cu Bacuner, jurnalisme bukan sekadar menulis peristiwa, tetapi perjalanan batin yang penuh tanya? mana yang harus diungkapkan, dan mana yang cukup disimpan sebagai kebijaksanaan.
Seorang jurnalis kerap berdiri di persimpangan sunyi. Kejujuran memanggil dari satu sisi, sementara pertimbangan kemanusiaan berdiri di sisi lain.
Tidak semua kebenaran harus diteriakkan, namun tak sedikit pula yang justru wajib dibuka demi kepentingan bersama.
Dalam catatannya, Mang Cu Bacuner menegaskan satu prinsip, kejujuran tanpa topeng.
Menjadi diri sendiri, meski sederhana, jauh lebih bermartabat dibanding hidup dalam kepalsuan yang dibungkus citra. Di dunia yang kerap memuja sensasi, sikap jujur justru menjadi bentuk perlawanan paling sunyi namun bermakna.
Ia percaya, kritik tidak selalu harus disampaikan dengan amarah. Kritik dengan tawa sering kali lebih mengena, lebih membekas, dan lebih sulit dibantah.
Berbeda pendapat bukan alasan untuk kehilangan adab. Kritik bisa tajam tanpa harus melukai, keras tanpa harus kasar.
Mang Cu Bacuner juga belajar dari rakyat jelata tentang kerendahan hati dan kejujuran yang tidak dibuat-buat.
Dari sana ia memahami, martabat manusia tidak pernah ditentukan oleh titel, jabatan, atau sorotan kamera, melainkan oleh sikap saat berbicara, menulis, dan memperlakukan sesama.
Di tengah derasnya arus kepentingan, catatan ini menjadi pengingat: jurnalisme sejati bukan soal siapa yang paling lantang, tetapi siapa yang paling bertanggung jawab atas kata-katanya.
Dan di sanalah Mang Cu Bacuner memilih berdiri di jalan sunyi, menjaga nurani, menulis dengan hati, dan tetap manusiawi di tengah hiruk-pikuk dunia berita.***