Tribunpandawa.id, Jakarta - Wah, saga transfer Jay Idzes makin panas! AC Milan saat ini memimpin perburuan bek Timnas Indonesia ini dengan paket tawaran yang sangat menggiurkan, termasuk fasilitas kelas satu, lonjakan gaji signifikan, dan jaminan proyeksi skuad utama di San Siro.CEO Sassuolo, Giovanni Carnevali, sudah memberi sinyal restu untuk Jay Idzes melangkah ke level berikutnya. Namun, Sassuolo masih berharap kontribusi Jay Idzes di musim ini sebelum mempertimbangkan tawaran transfer di musim panas mendatang ¹ ².
Klub lain, seperti Inter Milan, juga dikabarkan tertarik dengan Jay Idzes, sehingga persaingan untuk mendapatkan tanda tangannya semakin ketat. Gimana nih, apakah Jay Idzes akan jadi pemain Indonesia pertama di AC Milan.
Nama Jay Idzes bukan sekadar bek biasa. Karakternya yang vokal, berani memimpin, dan disiplin di lapangan membuat publik Italia mulai menyebutnya sebagai calon penerus “DNA kapten” Milan.
Warisan Franco Baresi atau Paolo Maldini memang terlalu sakral untuk dibandingkan mentah mentah, tetapi aura kepemimpinan Jay dinilai sejalan dengan tradisi itu: tenang, tegas, dan tak gentar menghadapi striker kelas dunia.
Bocoran yang beredar menyebutkan, secara personal Jay sudah memberikan “lampu hijau”. Tantangannya jelas dan besar: menjadi tembok yang mematikan pergerakan predator Serie A seperti Dusan Vlahovic hingga Lautaro Martinez.
Bahkan, rumor kencang menyebut Milan menyiapkan nomor punggung “keramat” nomor yang identik dengan pemimpin lini belakang, simbol tanggung jawab, bukan sekadar identitas.
Jika transfer ini terwujud, dampaknya tak hanya mengguncang Serie A, tapi juga menjadi berkah luar biasa bagi Timnas Indonesia. Bayangkan skenario ideal: John Herdman (jika resmi) yang dikenal menggemari pertahanan disiplin, memiliki kapten yang setiap hari ditempa oleh Catenaccio paling rumit di dunia.
Ilmu bertahan level elite itu akan pulang ke Garuda, menular ke Rizky Ridho, Justin Hubner, dan Mees Hilgers menciptakan fondasi pertahanan yang matang, terorganisir, dan bermental juara.
Kini, bola ada di kaki Milan untuk menuntaskan detail akhir. San Siro menunggu. Jika pintu itu benar-benar terbuka, sejarah baru akan terukir: seorang kapten Garuda melangkah ke panggung legenda, membawa mimpi Indonesia ke jantung sepak bola Italia.*