BSM0Gpd8GpW9Gfd7TSz6BUWpBY==
Breaking
News

Cimahi Tengah Rajut Harmoni Budaya Sangkuriang 2025

Ukuran huruf
Print 0


Tribunpandawa.id Cimahi  –  Semangat kebhinekaan di Alun-Alun Kota Cimahi sangat terasa saat Kecamatan Cimahi Tengah ikut meramaikan Festival Sangkuriang 2025! Kehadiran Lurah Baros, Gugun Tristanto, S.IP, menambah keseruan acara ini. 

Festival Sangkuriang memang menjadi momentum penting untuk mempererat tali persaudaraan dan mempromosikan keberagaman budaya di Cimahi. Bagaimana kamu merayakan semangat kebhinekaan?

Festival Sangkuriang 2025 digagas oleh Pemerintah Kota Cimahi bekerja sama dengan Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kota Cimahi sebagai ruang perjumpaan budaya sekaligus simbol persatuan masyarakat majemuk.

Ajang ini menjadi cerminan hidupnya seni dan tradisi Nusantara yang tumbuh berdampingan di Kota Cimahi.

Sebanyak 23 etnis yang tergabung dalam FPK Kota Cimahi ambil bagian dalam festival tersebut. Rangkaian acara diawali dengan parade budaya yang bergerak dari kawasan Cimahi Mall menuju Alun-Alun Cimahi.

Arak-arakan warna-warni busana adat, iringan musik tradisional, serta tarian daerah sukses menyedot perhatian warga yang memadati sepanjang rute parade.

Setibanya di Alun-Alun, kemeriahan berlanjut melalui pertunjukan seni tradisional, musik etnik, tarian daerah, hingga peragaan busana adat dari berbagai penjuru Nusantara. Antusiasme masyarakat terlihat tinggi, menandakan kuatnya dukungan publik terhadap kegiatan kebudayaan yang mengedepankan nilai persatuan dan toleransi.

Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, yang secara resmi membuka Festival Sangkuriang 2025, menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pihak yang terlibat. Ia menegaskan bahwa keberagaman sosial dan budaya di Cimahi merupakan potensi besar yang harus dirawat melalui pendekatan kebudayaan.

“Festival ini bukan sekadar hiburan, tetapi sarana memperkuat persatuan dan menjaga keharmonisan. Perbedaan suku, agama, dan budaya bukan alasan untuk terpecah, justru menjadi kekuatan dalam membangun Cimahi yang aman, rukun, dan kondusif,” ujar Ngatiyana.

Ngatiyana juga menjelaskan, penamaan Sangkuriang mengandung filosofi kerja cepat, kolaboratif, dan efektif. Nilai tersebut tercermin dari proses perencanaan hingga pelaksanaan kegiatan yang terkoordinasi dengan baik.

 Ia menambahkan, meski sebagian didukung APBD, pelaksanaan festival ini mayoritas dibiayai secara swadaya oleh Forum Pembauran Kebangsaan dengan dukungan berbagai mitra.

Sementara itu, Ketua FPK Kota Cimahi, Totong Solehudin, menyebutkan bahwa FPK merupakan wadah resmi pembauran etnis sesuai amanat peraturan perundang-undangan. 

Saat ini, FPK Kota Cimahi menaungi 23 etnis yang aktif berkontribusi menjaga kerukunan dan harmoni sosial.

“Festival Sangkuriang kami rancang sebagai ruang temu lintas etnis, ruang dialog, sekaligus panggung kebudayaan. Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi agenda tahunan dan berkembang menjadi kalender event budaya berkelanjutan di Kota Cimahi,” ungkap Totong.

Tak hanya melibatkan pelaku seni dan budaya, Festival Sangkuriang 2025 juga menggandeng komunitas, akademisi, pelaku usaha, hingga media.

Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan mampu meningkatkan partisipasi publik, memperkuat rasa kebersamaan, serta memberi dampak positif bagi perputaran ekonomi lokal.

Melalui Festival Sangkuriang 2025, Pemerintah Kota Cimahi kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung pemajuan kebudayaan, penguatan nilai toleransi, dan pembangunan sosial yang inklusif. 

Festival ini diharapkan menjadi momentum mempererat silaturahmi, menumbuhkan kebanggaan terhadap budaya bangsa, serta menjaga persatuan di tengah keberagaman masyarakat Kota Cimahi. 

    (Mang Cu Bacuner's)



-.

Cimahi Tengah Rajut Harmoni Budaya Sangkuriang 2025
Periksa Juga
Next Post
Tautan berhasil disalin