
Tribunpandawa.id,Cimahi - Menjelang senja, waktu seakan melambat meski hakikatnya terus melaju. Di tengah hiruk pikuk hidup, manusia sering kali terjebak dalam keegoisan yang halus enggan mengakui usia, menolak kenyataan bahwa waktu telah menua bersama jiwa.
Namun, seperti pepatah bijak mengingatkan: semakin tua, semakin sadar. Bahwa tak semua hal butuh jawaban keras.
Kadang, diam adalah bentuk kebijaksanaan tertinggi. Bukan karena takut berbicara, melainkan karena hati sudah cukup tahu mana yang perlu ditanggapi, mana yang sebaiknya dilepaskan.
Tidur, dalam kesadaran semacam itu, bukan lagi sekadar kebutuhan fisik. Ia menjadi anugerah, jeda dari kebisingan dunia, tempat pikiran yang letih beristirahat, dan ruang tenang untuk merenung dalam damai.
Senja mengajarkan kita menerima usia, perubahan, dan keheningan. Sebab pada akhirnya, hidup bukan soal menjadi muda selamanya, tapi bagaimana menjadi utuh seiring bertambahnya usia.
(Mang Cu Bacuner's)